SUMINTEN ORA EDAN

oleh Yulia Ayuningtyas

Dahulu di hutan perbatasan Ponorogo dan Trenggalek terjadi banyak kesuruhan karena gangguan begal/ perampok yang di pimpin Surogentho, anak tokoh brandal Surobangsat dari gunung Pegat. Bupati Trenggalek lalu mengadakan sayembara, siapa yang bisa memulihkan suasana keamanan akan diberi bebono (hadiah besar). Warok Gunoseco dari Siman, Ponorogo yang terkenal sakti lalu mengikuti sayembara. Dengan kemampuanya, Surogentho dikalahkan dan dinasehati agar jangan mengganggu rakyat.

Warok Gunoseco yang berhasil memenangkan sayembara, datang ke Trenggalek meminta hadiah yang di janjikan Bupati Trenggalek. Tanpa pikir panjang, Bupati Trenggalek lalu menyatakan akan menikahkan anak mereka, yaitu Raden Mas Subroto anak dari Bupati Trenggalek dan Rara Suminten putri Warok Gunoseco. Warok Guneseco sangat bahagia mendengar hal tersebut. Ia kemudian pulang ke Siman, Ponorogo untuk memberikan kabar baik itu dan mempersiapkan pernikahan putrinya.

Tiga hari sebelum pernikahan, datang utusan Bupati Trenggalek yang mengatakan bahwa pernikahan antara Raden Mas Subroto dan Rara Suminten di batalkan karena Raden Mas Subroto telah jatuh hati dengan Cempluk Warsinah, anak Warok Suromenggolo. Akibatnya, Warok Gunoseco dan kerabat yang telah menyiapkan pesta perkawinan sangat terpukul. Suminten yang sangat terkejut menangis sejadi-jadinya. Akhirnya Suminten menjadi gila. Suminten menari nari di jalan dan memanggil setiap orang dengan panggilan “mas Brooto, mas Brootoo…”

Suminten sangat kecewa dengan Bupati Trenggalek yang ingkar janji. Warok Gunoseco sangat marah karena menganggap Warok Suromenggolo sebagai saudara seperguruannya telah menyakiti hatinya. Sebagai sesama warok, Gunoseco lalu menantang Suromenggolo untuk berduel. Karena sama-sama sakti akhirnya pertarungan tersebut tidak ada yang menang atau kalah. Di tengah-tengah pertarungan yang dahsyat, tiba-tiba mereka berdua berhenti karena kedatangan Suminten yang tertawa sendiri dan bertingkah aneh. Mengetahui hal tersebut Warok Suromenggolo merasa iba dan dan segera mengobati Suminten. Setelah Suminten sembuh, kemudian dimintakan keadilan di Trenggalek. Akhirnya Suminten menjadi istri Radhen Mas Subroto, Cempluk sebagai istri pertama dan Suminten menjadi istri kedua yang tampak ceria dari sebelumnya. Suminten tampak baik-baik saja.

Rupanya Suminten telah bangkit dari keterpurukannya. Ia menyadari bahwa terus menangis dan tenggelam dalam kesedihan tidak akan merubah keaadaan. Batal menikah dengan Raden Mas Subroto bukanlah akhir dari segalanya. Banyak hal yang dapat ia lakukan dalam hidupnya. Suminten bukanlah perempuan yang lemah. Ia tidak akan gila hanya karena batal menikah dengan seorang anak bupati. Sumintenpun hidup bahagia dengan caranya.

Digubah dari cerita rakyat Ponorogo “SUMINTEN EDAN”

KETERANGAN KARYA
Tahun : 2020
Media : Akrilik di atas kanvas
Dimensi : 226 CM X 150 CM
PROFIL
PERUPA :
Yulia Ayuningtyas
NIM 17020124050
PENDALAMAN & KELAS :
KONTAK & SOSMED
Lihat Karya Lain
Lihat Karya Perkelas